Walau namaku tak seharum Bapak Soekarno, yang dikenal atas jasanya, atau Ustd. Abdul Somad yang terkenal dengan dakwah khasnya, atau Ustd. Hanan Attaki yang dikenal dengan dakwah penggerak generasi milenial, atau jutaan nama yang begitu meluas di masyarakat, setidaknya, bila aku mati, nama ini tetap ada yang mengingat, atau bila tidak... TERINGAT
Aku lahir di waktu senja, saat sang matahari tergelincir menyambut hadirnya malam... Saat yang sama indahnya dengan waktu fajar... Oh aku tidak bisa membandingkan mana yang lebih indah antara fajar dan senja, karena mereka sama - sama indah walau bertentangan...
Aku lahir di sebuah rumah sakit negeri di kotaku, kata mama aku lahir ketika waktu hampir adzan maghrib, jadi beliau dan papa tidak pernah mengucapkan selamat ulang tahun diwaktu jam 00.00 seperti orang kebanyakan, katanya, "Kamu belum lahir",😄😄
07 November 1994, kalo lihat di kalender sih hari senin,,, Nabi Muhammad SAW juga lahir hari senin,, harapan besar bagi orang tuaku agar bisa mengikuti tata cara kehidupan beliau, setidaknya walau tidak bisa sama seperti beliau, kami bisa mencontoh sang anak, Sayyidah Fatimah Az-Zahra (Masih terbayang bagaimana semangatnya papa kala pagi 13 November 2002 menyebutkan nama itu, kata papa, seperti nama anak Nabi, dan kini bocah kecil itu sudah mau lulus SMP, masa terlalu cepat berlalu)
Kembali ke namaku... Noviza Hayatinur... Yang ngasih nenek, kata mama, dulu sempat berfikiran untuk mengganti jadi Novita, tapi nenek bilang, Noviza saja... Dan kalau tidak salah, salah seorang guru Bahasa Arabku bilang, pernah membahas namaku begitu beliau mengabsen di kelas...
"Sepertinya nama kamu bukan Noviza, seharusnya Nafiza.... Mungkin ada alasan kenapa menjadi Noviza, tapi kalau Nafiza, maka arti namamu akan cocok...
Nafiza = Jendela, Hayati = Hidupku, Nur = Cahaya... Jendela cahaya hidupku,,, kurang lebih begitu artinya"
Itu adalah kalimat pemaparan yang masih aku ingat hingga saat ini, yang sore harinya sepulang dari sekolah kusampaikan ke mama dan mama menghubungi nenek... Benar begitulah maksudnya... Novi disesuaikan dengan bulan lahirku, begitulah kira kira....
Harapan mereka, aku menjadi jendela, hidupku bisa berarti bagi diriku sendiri, orang tuaku, dan juga orang di sekelilingku.... Tapi kini aku kembali berkaca, sudahkan harapan itu tercapai? sudah mampukah aku membuka dan menjadi penerang layaknya jendela melewatkan cahaya sang surya di siang hari... Sudah mampukah aku menjadi jendela,, membawa angin segar bagi keluarga dan lingkunganku... Bukan hanya sekedar jendela tempat orang mengintip, atau tempat nyamuk berlalu layang... Eh, tapi itu ada manfaatnya, mengintip lewat jendela membantu kita mengetahui siapa yang mengetuk pintu, meminimalisir kedatangan tamu tak diundang tentunya, dan tempat nyamuk berlalu lalang,, tergantung sepositif apa kamu memandang nyamuk itu....
Aku hanya ingin, sosok dengan nama yang dititipkan-Nya ini bisa sedikit, walau hanya sebesar biji zarrah, memberikan cahaya untuk siapapun yang ada disekitarnya...
Jakarta, 02 Mei 2018...
Dalam lantunan kisah Maryam di Pusat Kota Jakarta...
Jendela cahaya hidupku...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar