Minggu, 19 Agustus 2018

Jakarta Ramai, Hatiku Sepi.....

Apa kabar mimpi mimpimu...
Apa kau tinggal begitu saja...
Apa kabar angan - anganmu...
Hari ini...

Jakarta ramai... Hatiku sepi...


Tanpa sengaja menemukan lagu itu di salah satu postingan instagram teman. Sebuah lagu yang membuatku teringat dan menelisik ulang pembicaraanku dengan Papa. Samar dalam ingatan ntah itu ketika SMP atau SMA, yang ku ingat hanyalah nada bicara Papa, dimana berbicara seolah melepaskan hormon endorfinnya... Terekam jelas di memoriku bagaimana Papa berkata dengan penuh harap agar ku bekerja di kota ini, karena kata papa di ibukota orang akan lebih cepat berkembang, akses lebih mudah dan segala kemajuan lainnya...

Dan kini ku disini, di sudut, oh bukan sudut kota Jakarta, karena hanya dengan berjalan kaki 5 menit dari posisiku menulis ini, -posisiku bernaung dan melewati hari - hariku- menuju pusat kota. Hiruk pikuk disini, kota yang tidak pernah mati kurasa. Kota yang ramai, tapi ntah kenapa berasa sepi. Bahkan suara kembang api yang dinyalakan, ntahlah itu di area monas atau bundaran HI masih jelas terdengar, ada perhelatan akbar di negara yang tengah menjadi sorotan ini, dan tetap saja masih terasa sepi.

Teringat pula kata - kata Papa karena beliau senang sekali aku ditempatkan disini, lebih baik daripada ditempatkan ditengah hutan sawit dengan dikelilingi rawa di sekeliling. Mama juga bilang, mungkin disana lebih baik, karena kota besar dan pergerakannya lebih cepat dari kota bertuah.

Ntah apa yang ku mau... Penuh tanya dalam diri....

Dahulu, sekian banyak list yang ingin aku capai. Semua impian yang dibangun di sela - sela mencuci piring, ataupun ketika sedang termenung menonton. Agar segera bisa ke kota ini, menyusun tempat tempat yang ingin aku kunjungi. Tempat - tempat yang hanya bisa ku saksikan lewat media televisi. Segala hal yang ku susun, yang ku inginkan... Segala hal yang menjadi angan kecil setelah ku sampai di kota ini. 

Dan kini, setelah satu persatu yang ku impikan mulai terlaksana, ntah kenapa bukan bahagia yang ku dapat.... Ada sesuatu yang salah disini...

Senja menyambut kota yang lelah ini...
Ia bertanya 'Bagaimana harimu?'
Apa kata hati kecilmu?
Mengapa tak kau ikuti saja?
Apa isi dari benakmu?
Hari ini...


Aku tak tau..... seolah seirama dengan nyanyian Maudy, ku menjawab pertanyaan kecil yang meluncur itu...

Seperti pecundang sejati, ada rasa resah dan ingin kembali ke rumah saja. Atau sekedar bersembunyi dari sesuatu yang ntahlah tak ku ketahui itu apa.

Ada yang salah dengan visiku, ada yang salah dengan misiku...

Di selimuti gundah yang tetiba muncul, ntah karena memang iman yang lemah sehingga syaitan dengan mudah membisikkan kegundahan itu, atau karena memang jauh di lubuk hati, semua terasa sepi?

Bahkan short escape dan tawa bahagia kemarin seakan lenyap tanpa bekas. Ntah apa yang ku cari... Yang jelas seperti kata Maudy, Jakarta ramai.... Hatiku sepi....




Jakarta, Agustus 19 2018...




Dari anak perempuan yang merindukan tawa dirumah....
Dari anak perempuan yang tiba - tiba merindukan belai sang bunda...
Dari anak perempuan yang tiba - tiba teringat ciuman kening sang ayah...
Dari seorang kakak yang merindukan tawa kecil adiknya...