Minggu, 07 Oktober 2018

Sebuah Permintaan....

Kala itu, di sabtu malam...
Tanpa sebuah aba - aba, percakapan random biasa antar anak dan ayah, anak dan ibu yang berganti - gantian. Mengenai rutinitas sang anak di perantauan, rencana beberapa hari kedepan dan segala hal yang selalu saja menarik menjadi pembicaraan....

Di tengah pembicaraan, mengenai rencana kepulangan karena seorang sahabat. Lalu rencana kepulangan berikutnya, karena sahabat berbeda merencanakan hajat yang sama. Saat itulah tiba - tiba Papa berujar...

'Jadi kamu mau kapan nak?'

Aku masih ingat, waktu itu, kami sedang di rumah, setelah selesai sholat Papa menanyakan perihal teman kantor yang merayakan hajatan penyematan benda mungil itu di jarinya, kata - kata yang sama keluar dari mulut Papa. Ya, tidak ada yang berbeda dengan pertanyaan sabtu malam kemarin.

'Jadi kamu mau kapan nak?'

Bedanya, di sabtu malam kemarin disertai imbuhan dengan 'Mulailah mencari....'

Saat itu juga aku tersentak. Belum pernah selama ini beliau meminta dengan nada serius seperti itu. Belum pernah pula Mama mengatakan hal yang sama dengan nada yang sama.

Egoku masih bersikeras, mencoba bertoleransi dengan mereka.
'Vivi masih mau kuliah Ma, teman - teman Vivi sudah kuliah', ku katakan sekuat tenaga, menjaga nada bicara tetep riang dan manja seperti biasa.

Lalu seperti biasa Mama menjawab... 'Kan bisa, kuliah setelah menikah'

Dan pembicaraan malam itu kualihkan sementara, tentang kegiatan adek yang sedang aktif dengan club jepangnya.

Saat sambungan terhenti, kata - kata itu, nada suara itu masih terngiang. Selalu terngiang sampai saat ini. Saatku mengetik tulisan ini...

Aku belum siap, itu kata egoku.
Aku bukan siapa siapa, itu kata minderku.
Menikah itu harus di persiapkan dengan matang, logikaku mulai bersuara.
Aku masih bisa kok sendiri, toh buktinya aku masih baik baik saja, ntah siapa yang bersuara, ntah pikiran sok kuatku, atau hanya godaan syaitan.

Quality time 2 jam tadi membuka fikiranku. Bukan tanpa alasan mereka meminta. Toh sudah 6 tahun aku melangkah keluar dari rumah, sudah selesai bersekolah, memiliki pekerjaan tetap, lalu apalagi?

Terkadang saat menatap kerlip lampu di kamar, ku sempat berfikir akan berapa lama aku mendiam dikamar ini? 1 tahun lagi? Atau hanya hitungan bulan. Takutku berfikiran bahwa akan lebih lama dari itu.

Secara jujur jelas, banyak fantasi yang ingin ku bangun dengan dia yang dipilihNya. Mulai dari hal kecil, sampai penataan dapur ingin ku rancang dengannya. XD

Seorang teman tadi berkata 'Orang tua kita itu meminta menikah, karena mereka akan semakin berat, melepas anaknya sendiri, ke negara nun jauh yang bahkan mereka belum pernah kunjungi. Kalau sudah bersuami, toh khawatir tetap ada, tapi mereka tau pada siapa bisa menitipkan kepercayaan'

Aku terenyuh, selama ini, terlalu dangkal fikirku. Alasan menunda hal itu karena ku memang ingin mengerjarnya. Fikirku, hal itu menghambat jika ku ingin pergi sejauh itu. Memang masih terlalu tinggi egoku, mungkin ku berkata mampu, tapi siapa yang tau bagaimana perasaan dan kekhawatiran mereka? Toh anaknya batuk saja, Papa yang gak sengaja mendengar langsung sewot. Ini bagaimana kalau sejauh itu dan anak perempuannya sendiri?

Teman tadi berkata 'Bahkan orang yang menurut kita tidak bisa kita tolerir sudah dipilihkan oleh-Nya yang dapat mendampingi dan melengkapi orang itu. Dan insyaAllah pasti telah ada yang disiapkan untuk mendampingi dan melengkapi kita. Jangan minder'

Kembali ku terenyuh, memang kurang micin sepertinya. Kurang makan lemon dan garam membuatku tak berfikir sejauh itu. Jadi ingat, lupa ayat berapa, yang jelas sepertinya surat An Nur, bahwa setiap kita di ciptakan berpasang - pasangan. Toh sekarang adalah bagaimana kita belajar ikhlas, dan menerima tidak hanya baiknya, tapi buruknya dia.

Bicara soal siap, toh sampai saat menulis ini ditanya sudah siap pun aku belum. Tapi ku pikir, kalau indikator siap itu bias. Mau sampai kapan? Sampai kapan kita bisa merasa siap? Indikator kesiapan itu bukan seperti A B C, karena siap itu tak terukur. Siap itu tidak bisa dikatakan siap, tapi siap itu bisa di persiapkan. Selagi Allah menyiapkan dia, kenapa kau tak mulai bersiap Vi. Toh mau itu setahun, atau dua tahun atau kapanpun dia datang, orangnya dia juga kan yang di pilihkan? Kenapa membuatnya menunggu? Kalau menurutmu kau merasa kecewa saat menunggu tanpa alasan yang pasti, bagaimana dengannya?

Tapi, aku masih bisa sendiri.......
BOHONG, jangan kau bohongi hati kecilmu. Kau merasa sepi kan? BOHONG saat kau berkata, aku tidak menginginkanya. Lalu bagaimana fantasi itu bisa kau bangun kalau kau tak menginginkannya? Bagaimana hayalmu menggunakan busana itu kalau kau tak menginkannya? Pernah kan kau merasa tak mampu, ingin bersandar mencari jalan keluar bersama. Hati kecilmu juga terkadang ingin dimanjakan seperti itu, ingin merasakan seperti mereka, bahagia menyiapkan pernikahannya, bahagia menjalankan ibadahnya, bahagia mendidik dan mengasuh... Jangan kau bohongi dirimu sendiri.

Sebuah permintaan...
Saat Papa dan Mama mulai meminta....
Sebuah permintaan kecil, untuk putri mereka yang tidak dewasa ini...


'Menikahlah'....

Tunjukkan dulu kepada-Nya bahwa kamu mulai bersiap, perihal dengan siapa, yakinlah Dia lebih tau aktor mana yang tepat mengisi jalan kisahmu.



Jakarta, 7 Oktober 2018

Cause when the time is right you'll be here.....
But For Now.....
Dear No One.....
This is your love song.....