Senin, 10 Desember 2018

Untukmu... Calon Imamku

Aku hanya wanita yang bila kau pilih karena hartanya, maka mungkin tak masuk dalam kriteria...
Aku hanya wanita yang bila kau pilih karena keturunannya, maka mungkin tak masuk dalam kriteria...
Aku hanya wanita yang bila kau pilih karena parasnya, maka mungkin tak masuk dalam kriteriamu pula...
Aku hanya wanita, yang bila kau pilih karena agamanya pun, masih jauh dari kriteria shalihah seperti wanita lainnya.

Untukmu calon imamku...

Munafik bila ku mengatakan ku tak menginginkan hadirmu, munafik bila aku mengatakan aku tak membutuhkanmu...
Tapi kusadari, untuk saat ini belum pantas rasanya diri ini mengisi relung hati yang mungkin telah Allah kokohkan imannya, kuatkan agamanya dan baikkan budi pekertinya.

Aku hanya wanita biasa, penuh cacat dan cela. Jika bukan karena Allah yang menutupi aibku, aku ragu kau mau menerimaku.
Aku hanya wanita yang sedang mencoba belajar, belajar menata diri menata emosi dan menata hati...
Agar bila Allah mengkehendaki kita bersatu, aku mampu menjadi yang terbaik bagimu...
Mungkin aku masih membawa beban untukmu, tapi dengan segala upayaku aku akan berusaha menjadi yang bisa mendapingimu dan beribadah bersamamu....

Untukmu yang ntah siapa dan dan dimana...
Calon imam yang insyaAllah telah Allah pilihkan...
Maafkan aku bila diri ini sempat lalai, bila hati ini sempat salah berlabuh. Maafkan aku karena sempat tak menjaga keutuhannya untuk dirimu seorang.
Maafkan aku sempat salah dalam melabuhkan hati...
Maafkan aku...

Akan kuupayakan mulai dari saat ini,,,
Akan kujaga hati ini, akan ku bentengi diri ini, dari godaan nafsu syaitan belaka...
Karena kuyakin, saat ku benar - benar merasakan cinta, adalah saat aku membangun cintaku denganmu, seseorang yang telah Allah pilihkan, diwaktu yang tepat kita bersatu dalam ridhoNya tentunya...

Untukmu calon imamku...
Sampai saat itu datang, kumohon bersabarlah sampai Allah mengarahkan aku padamu dan kau padaku...
Semoga semua penantian yang kita lalui menjadi bekal yang terbaik untuk kehidupan kita...
Semoga yang kita rencanakan dimudahkan Allah pada saatnya tiba...
Semoga Allah meridhoi setiap langkah dan upaya kita...


Untukmu calon imamku,
Terimakasih karena kau telah menunggu... 
Semoga seperti yang ku upayakan, kau juga mengupayakan hal yang sama..


Untukmu yang ntah siapa dan dimana,
Dear No One, this is your love letter...


Djakarta, 10 Desember 2018
From 36th floow, the plaza office tower...


Saat aku, tulang rusukmu mulai bingung dan lelah,,,
Dalam menganalisa data dan analisa penantianku padamu..
Semoga Allah meridhoi kita...

Minggu, 07 Oktober 2018

Sebuah Permintaan....

Kala itu, di sabtu malam...
Tanpa sebuah aba - aba, percakapan random biasa antar anak dan ayah, anak dan ibu yang berganti - gantian. Mengenai rutinitas sang anak di perantauan, rencana beberapa hari kedepan dan segala hal yang selalu saja menarik menjadi pembicaraan....

Di tengah pembicaraan, mengenai rencana kepulangan karena seorang sahabat. Lalu rencana kepulangan berikutnya, karena sahabat berbeda merencanakan hajat yang sama. Saat itulah tiba - tiba Papa berujar...

'Jadi kamu mau kapan nak?'

Aku masih ingat, waktu itu, kami sedang di rumah, setelah selesai sholat Papa menanyakan perihal teman kantor yang merayakan hajatan penyematan benda mungil itu di jarinya, kata - kata yang sama keluar dari mulut Papa. Ya, tidak ada yang berbeda dengan pertanyaan sabtu malam kemarin.

'Jadi kamu mau kapan nak?'

Bedanya, di sabtu malam kemarin disertai imbuhan dengan 'Mulailah mencari....'

Saat itu juga aku tersentak. Belum pernah selama ini beliau meminta dengan nada serius seperti itu. Belum pernah pula Mama mengatakan hal yang sama dengan nada yang sama.

Egoku masih bersikeras, mencoba bertoleransi dengan mereka.
'Vivi masih mau kuliah Ma, teman - teman Vivi sudah kuliah', ku katakan sekuat tenaga, menjaga nada bicara tetep riang dan manja seperti biasa.

Lalu seperti biasa Mama menjawab... 'Kan bisa, kuliah setelah menikah'

Dan pembicaraan malam itu kualihkan sementara, tentang kegiatan adek yang sedang aktif dengan club jepangnya.

Saat sambungan terhenti, kata - kata itu, nada suara itu masih terngiang. Selalu terngiang sampai saat ini. Saatku mengetik tulisan ini...

Aku belum siap, itu kata egoku.
Aku bukan siapa siapa, itu kata minderku.
Menikah itu harus di persiapkan dengan matang, logikaku mulai bersuara.
Aku masih bisa kok sendiri, toh buktinya aku masih baik baik saja, ntah siapa yang bersuara, ntah pikiran sok kuatku, atau hanya godaan syaitan.

Quality time 2 jam tadi membuka fikiranku. Bukan tanpa alasan mereka meminta. Toh sudah 6 tahun aku melangkah keluar dari rumah, sudah selesai bersekolah, memiliki pekerjaan tetap, lalu apalagi?

Terkadang saat menatap kerlip lampu di kamar, ku sempat berfikir akan berapa lama aku mendiam dikamar ini? 1 tahun lagi? Atau hanya hitungan bulan. Takutku berfikiran bahwa akan lebih lama dari itu.

Secara jujur jelas, banyak fantasi yang ingin ku bangun dengan dia yang dipilihNya. Mulai dari hal kecil, sampai penataan dapur ingin ku rancang dengannya. XD

Seorang teman tadi berkata 'Orang tua kita itu meminta menikah, karena mereka akan semakin berat, melepas anaknya sendiri, ke negara nun jauh yang bahkan mereka belum pernah kunjungi. Kalau sudah bersuami, toh khawatir tetap ada, tapi mereka tau pada siapa bisa menitipkan kepercayaan'

Aku terenyuh, selama ini, terlalu dangkal fikirku. Alasan menunda hal itu karena ku memang ingin mengerjarnya. Fikirku, hal itu menghambat jika ku ingin pergi sejauh itu. Memang masih terlalu tinggi egoku, mungkin ku berkata mampu, tapi siapa yang tau bagaimana perasaan dan kekhawatiran mereka? Toh anaknya batuk saja, Papa yang gak sengaja mendengar langsung sewot. Ini bagaimana kalau sejauh itu dan anak perempuannya sendiri?

Teman tadi berkata 'Bahkan orang yang menurut kita tidak bisa kita tolerir sudah dipilihkan oleh-Nya yang dapat mendampingi dan melengkapi orang itu. Dan insyaAllah pasti telah ada yang disiapkan untuk mendampingi dan melengkapi kita. Jangan minder'

Kembali ku terenyuh, memang kurang micin sepertinya. Kurang makan lemon dan garam membuatku tak berfikir sejauh itu. Jadi ingat, lupa ayat berapa, yang jelas sepertinya surat An Nur, bahwa setiap kita di ciptakan berpasang - pasangan. Toh sekarang adalah bagaimana kita belajar ikhlas, dan menerima tidak hanya baiknya, tapi buruknya dia.

Bicara soal siap, toh sampai saat menulis ini ditanya sudah siap pun aku belum. Tapi ku pikir, kalau indikator siap itu bias. Mau sampai kapan? Sampai kapan kita bisa merasa siap? Indikator kesiapan itu bukan seperti A B C, karena siap itu tak terukur. Siap itu tidak bisa dikatakan siap, tapi siap itu bisa di persiapkan. Selagi Allah menyiapkan dia, kenapa kau tak mulai bersiap Vi. Toh mau itu setahun, atau dua tahun atau kapanpun dia datang, orangnya dia juga kan yang di pilihkan? Kenapa membuatnya menunggu? Kalau menurutmu kau merasa kecewa saat menunggu tanpa alasan yang pasti, bagaimana dengannya?

Tapi, aku masih bisa sendiri.......
BOHONG, jangan kau bohongi hati kecilmu. Kau merasa sepi kan? BOHONG saat kau berkata, aku tidak menginginkanya. Lalu bagaimana fantasi itu bisa kau bangun kalau kau tak menginginkannya? Bagaimana hayalmu menggunakan busana itu kalau kau tak menginkannya? Pernah kan kau merasa tak mampu, ingin bersandar mencari jalan keluar bersama. Hati kecilmu juga terkadang ingin dimanjakan seperti itu, ingin merasakan seperti mereka, bahagia menyiapkan pernikahannya, bahagia menjalankan ibadahnya, bahagia mendidik dan mengasuh... Jangan kau bohongi dirimu sendiri.

Sebuah permintaan...
Saat Papa dan Mama mulai meminta....
Sebuah permintaan kecil, untuk putri mereka yang tidak dewasa ini...


'Menikahlah'....

Tunjukkan dulu kepada-Nya bahwa kamu mulai bersiap, perihal dengan siapa, yakinlah Dia lebih tau aktor mana yang tepat mengisi jalan kisahmu.



Jakarta, 7 Oktober 2018

Cause when the time is right you'll be here.....
But For Now.....
Dear No One.....
This is your love song.....

Minggu, 19 Agustus 2018

Jakarta Ramai, Hatiku Sepi.....

Apa kabar mimpi mimpimu...
Apa kau tinggal begitu saja...
Apa kabar angan - anganmu...
Hari ini...

Jakarta ramai... Hatiku sepi...


Tanpa sengaja menemukan lagu itu di salah satu postingan instagram teman. Sebuah lagu yang membuatku teringat dan menelisik ulang pembicaraanku dengan Papa. Samar dalam ingatan ntah itu ketika SMP atau SMA, yang ku ingat hanyalah nada bicara Papa, dimana berbicara seolah melepaskan hormon endorfinnya... Terekam jelas di memoriku bagaimana Papa berkata dengan penuh harap agar ku bekerja di kota ini, karena kata papa di ibukota orang akan lebih cepat berkembang, akses lebih mudah dan segala kemajuan lainnya...

Dan kini ku disini, di sudut, oh bukan sudut kota Jakarta, karena hanya dengan berjalan kaki 5 menit dari posisiku menulis ini, -posisiku bernaung dan melewati hari - hariku- menuju pusat kota. Hiruk pikuk disini, kota yang tidak pernah mati kurasa. Kota yang ramai, tapi ntah kenapa berasa sepi. Bahkan suara kembang api yang dinyalakan, ntahlah itu di area monas atau bundaran HI masih jelas terdengar, ada perhelatan akbar di negara yang tengah menjadi sorotan ini, dan tetap saja masih terasa sepi.

Teringat pula kata - kata Papa karena beliau senang sekali aku ditempatkan disini, lebih baik daripada ditempatkan ditengah hutan sawit dengan dikelilingi rawa di sekeliling. Mama juga bilang, mungkin disana lebih baik, karena kota besar dan pergerakannya lebih cepat dari kota bertuah.

Ntah apa yang ku mau... Penuh tanya dalam diri....

Dahulu, sekian banyak list yang ingin aku capai. Semua impian yang dibangun di sela - sela mencuci piring, ataupun ketika sedang termenung menonton. Agar segera bisa ke kota ini, menyusun tempat tempat yang ingin aku kunjungi. Tempat - tempat yang hanya bisa ku saksikan lewat media televisi. Segala hal yang ku susun, yang ku inginkan... Segala hal yang menjadi angan kecil setelah ku sampai di kota ini. 

Dan kini, setelah satu persatu yang ku impikan mulai terlaksana, ntah kenapa bukan bahagia yang ku dapat.... Ada sesuatu yang salah disini...

Senja menyambut kota yang lelah ini...
Ia bertanya 'Bagaimana harimu?'
Apa kata hati kecilmu?
Mengapa tak kau ikuti saja?
Apa isi dari benakmu?
Hari ini...


Aku tak tau..... seolah seirama dengan nyanyian Maudy, ku menjawab pertanyaan kecil yang meluncur itu...

Seperti pecundang sejati, ada rasa resah dan ingin kembali ke rumah saja. Atau sekedar bersembunyi dari sesuatu yang ntahlah tak ku ketahui itu apa.

Ada yang salah dengan visiku, ada yang salah dengan misiku...

Di selimuti gundah yang tetiba muncul, ntah karena memang iman yang lemah sehingga syaitan dengan mudah membisikkan kegundahan itu, atau karena memang jauh di lubuk hati, semua terasa sepi?

Bahkan short escape dan tawa bahagia kemarin seakan lenyap tanpa bekas. Ntah apa yang ku cari... Yang jelas seperti kata Maudy, Jakarta ramai.... Hatiku sepi....




Jakarta, Agustus 19 2018...




Dari anak perempuan yang merindukan tawa dirumah....
Dari anak perempuan yang tiba - tiba merindukan belai sang bunda...
Dari anak perempuan yang tiba - tiba teringat ciuman kening sang ayah...
Dari seorang kakak yang merindukan tawa kecil adiknya...

Senin, 04 Juni 2018

Debur Ombak


مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ ، وَكِيرِ الْحَدَّادِ ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ ، أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ ، وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً

Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang sholih dan orang yang jelek adalah bagaikan berteman dengan pemilik minyak misk dan pandai besi. Jika engkau tidak dihadiahkan minyak misk olehnya, engkau bisa membeli darinya atau minimal dapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau dapat baunya yang tidak enak.” 
(HR. Bukhari no. 2101, dari Abu Musa)


Masih jelas terekam dalam ingatan, seperti sebuah kolase film pendek perjalanan kecilku dengan mereka tanggal 05 Mei 2018 kemarin. Perjalanan singkat bersama mereka, mereka dengan latar belakang berbeda, berbagai kharakter tapi membuatku banyak belajar dari mereka. Perjalanan singkat itu membuatku merindukan mereka yang lain, mereka yang menemaniku di masa SMAku, dimasa kuliahku, mereka yang bahkan sampe sekarang selalu ku harap ada dalam lindunganmu ya Rabb.

Ghazian, sebuah nama penuh cerita, berisi anak - anak dengan berbagai jiwa mudanya yang selalu ingin belajar jatuh cinta. Belajar untuk selalu jatuh cinta pada Rabbnya dan semua ciptaannya. Mulanya aku tak tau apa alasanku bergabung ikut organisasi ini, sekaligus belajar disana. YISC Al - Azhar, yang namanya bahkan selama aku kuliah dulu cukup anti dengan hal begitu. "Ampuni aku ya Rabb". Tujuan klise yang awalnya bergabung tanpa ada alasan membuatku kini memiliki alasan cukup kuat untuk terus bertahan dan belajar disini.


Seperti hadits diatas, jika kita berteman dengan minyak misk, maka sedikitnya kita akan ikut tercium aromanya. Bertemanlah dengan orang yang baik, insha Allah mereka akan membawamu menuju kebaikan juga...

Bergabung dengan YISC Al Azhar membuatku belajar banyak hal.. Baik dari belajar agama, bersosialisasi dan belajar bermain emosi. Yah jelas, bergabung dengan Teater YISC juga bagian dari pembelajaranku untuk bermain dan mengontrol emosi. Oh jangan lupakan Asheeqa, kelompok wanita yang insha Allah solehah. Yang sedang mempersiapkan diri untuk kedatangan dia, si maut maupun si calon imam yang kita gak tau yang mana duluan datangnya... Grup Wa yang langsung rame kalo udah kesentil soal jodoh, nikah, persiapan pernikahan, wkwkwkwwk.... Tapi tetep rame dengan share berbagai ilmu baik lainnya.. (LOPH U ASHEEQA)

Terimakasih Ya Allah, telah memberiku kesempatan bertemu, mengenal dan belajar bersama mereka.. Kalau nanti suatu hari kalian tidak menemukanku di Jannah-Nya, ku mohon ingatlah aku dan minta pada-Nya untuk menemani kalian disana.. ^^


In Frame:
ASHEEQA

Ghazian Al Ghuroba




Teater YISC



Djakarta, 04 June 2018
(Seharusnya rampung 06 May 2018), kelupaan nulis dan kelelep wkwkwk


Dibalik bilik sepi dari lantai 36..

Selasa, 22 Mei 2018

Dear Daddy...

Song Played : Because of you - Kelly Clarkson (Always listened since 2009)  


Dear Daddy...
This is the letter from your little girl, the letter that will never sent to you... Because i didn't have any courage to send it to you...

Dad, when i search quote about Dad, i don't know why i feel something wrong with that.. I know i love you, you are my Daddy, our Daddy... You do everything for us, for Mom, Imah and I...

Daddy, i'm sorry....
I know you love us, and everyone has a mistakes,,, but.....

I still remember that day... The day when you fight with moms, the day when moms pick me to school late than before, the day when i cry for the first time for the reason that i didn't know.... I still remember when moms crying in the silently and you didn't came back to home for a few days... I remember that vaguely...

And the day passed... It's a long time until i see that again, i heard that phone call... and i remember how Moms cry again, she search everything in you bags. That day i know Dad,,, you disappoint me... And that was the time when for the first time i start to like someone...

You know Dad... I'm afraid Dad, I'm scared... I didn't have any courage to start to like someone again...

I asked Mom " Why you still live with Dad, Moms?" and she answered with her soft voice "Because He is your Dad, Because I have you and your sister... And He promise me never do that again"...

Oh God, i can't forget all the messages, the package and everything that you and Moms get from that woman.. I know you already begged, you promised Mom that you never do that again,,, but i still feel something wrong until now...

'Daddy is daughter first love', yes you are, and you are the first one who broke my heart too...

But you know that, i still love you... You are my hero,your are the first who teach me, you are the first who support me,, you are the one who concern me,, and you are the first of All...

We love you Daddy, and i'm sorry....

Maybe this is the time for me to trust Mom.. Try to love you again without but.. 
I don't know how... but i will try.... 



Djakarta, May 22 2018



The little girl who want to love her Daddy...
The little girl who want to try to trust someone, to trust the man...

Kamis, 10 Mei 2018

Marriage...

وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَىٰ مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ ۚ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ
فَضْلِهِ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

"Marry the single people from among you and the righteous slaves and slave-girls. If you are poor, Allah (SwT) will make you rich through His favour; and Allah (SwT) is Bountiful, All-Knowing." (Surah 24, Verse 32)


Senin lalu, di grup kelasku (Oh mungkin aku belum menulis tentang grup kelasku, nanti kalau ada waktu yes ^.^), ada istilah K3DB -Ku Kenal Kau Dengan Bismillah-, hari itu merupakan giliranku menjawab pertanyaan yang dilemparkan moderator yang sebelumnya dikumpulkan oleh koordinator. Setelah menjawab pertanyaan itu, berkali - kali aku membacanya, menimbulkan sebuah kecamuk kecil yang masih meragukan. Salah satu bunyi pertanyaannya "Kapan siap menikah?", seolah menjadi kerikil kecil yang kalau kau tidak hati - hati akan sakit. Pertanyaan itu membuatku merenung dan memutuskan, bahwa aku harus belajar, harus mempersiapkannya.

Hari ini sepulang dari kajian The Rabbanian di Masjid Al-Azhar, sebuah pertanyaan besar menari di otakku. Membuatku memutuskan bertanya padanya, seseorang yang melalui ridhonya bisa mendapatkan ridho-Nya.

V: Ma, sebaiknya Vivi lanjut S2 dulu atau menikah dulu ma?
M: Menikahlah nak....

Tanpa ragu dua buah kata itu mengalir lancar pada suara yang selalu membuatku tenang itu. Oke baiklah, mungkin untuk S2 bisa ditunda dahulu... Lalu kembali sebuah pertanyaan melintas diotakku....

V: Lalu mama ingin Vivi menikah kapan?
M: Kalau bisa tahun depan...
V: Kalau tahun 2020 ma?
M: Itu umurmu udah mau 26 kan nak, jangan menunda kalau sudah ada yang mau datang...

Lagi... Sama seperti tadi, aku tidak bisa membantah dan seperti kehabisan kata - kata. Lidahku kelu seperti lupa bagaimana bunyi huruf A. 

M: Carilah Ia lelaki yang mengerti, lelaki yang tidak mudah memutuskan berpoligami. Carilah lelaki yang setia... Kalau ada yang datang, jangan langsung menolak. Mulai sekarang mulailah belajar menjadi wanita harus seperti apa.

Pembicaraan di telpon masih berlanjut tentang kerinduan anak dan orang tuanya, mengenai baju lebaran dan sebagainya hingga akhirnya telpon ditutup. 

Ketika sambungan itu terputus aku menyadari, sudah saatnya memulai yang belum dimulai. Kalau mama sudah berkata demikian maka tiada lagi yang bisa dilakukan selain berikhtiar. Karena menikah adalah sebuah ibadah jangka panjang, yang mana nantinya, hadirnya dia adalah karena Allah menghadirkannya, sebagai makhluk yang masih belum baik ini aku harus banyak belajar. Mari kita sama - sama belajar, merubah diri menjadi manusia baik.

Hai kamu, kamu yang disana, kamu yang ntah siapa... Bantu aku dahulu, dalam doamu agar aku selalu mengingat-Nya, hingga lambat laun aku bisa mengingat siapa dirimu. Aku pun demikian, dalam doaku akan berusaha untuk mengingatkamu agar selalu meingat-Nya. Mari kita saling mengingat hingga Ia berkata sudah waktunya untuk mengingat-Nya bersama.

Jika ada kesempatan, aku akan melanjutkan mencatat intisari dari materi tadi, sebuah kajian dengan tema "Perhiasan Terbaik"- Ustd. Rizal Yuliar,Lc. Untuk diriku sendiri dimasa kini dan dimasa depan, sebagai pengingat tentang ilmu yang telah diperlajari. 
 

 Djakarta, 09 Mei 2018...
Sudah berganti hari saat terpublish...


Dibalik sayup suara kipas dan dentingan sang malam..
Dari aku untuk aku yang memikirkan untuk apa aku..
NHN 

Senin, 07 Mei 2018

Karena....

Karena Fajar dan Senja itu ada di saat berbeda...
Karena Siang dan Malam tak bisa dipersatukan...
Karena diamnya aku bukan berarti iya...
Karena tidak nya aku bukan berarti tidak...
Karena iya nya aku juga bukan berarti iya...
Karena dua dari satu bisa saja itu nol...

Tak ada kesan tak ada alasan...
Masih coba mencari, menelaah lebih pasti...
Untuk apa ada disini, kenapa aku disini...
Agar aku tau alasan apa aku ada disini...

Dengan izin-Nya pasti...
Dengan suratan-Nya pasti...
Tapi masih banyak yang belum ku kenali...
Perasaan itu, yang kuanggap dulu sama...
Ternyata bukan...

Seperti jerami... Yang awal kukira sama...
Tapi ternyata berbeda...
Tapi....
Tapi...
Ntahlah....