وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَىٰ مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ
وَإِمَائِكُمْ ۚ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ
فَضْلِهِ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
"Marry the single people from among you and the righteous
slaves and slave-girls. If you are poor, Allah (SwT) will make you rich
through His favour; and Allah (SwT) is Bountiful, All-Knowing." (Surah
24, Verse 32)
Senin lalu, di grup kelasku (Oh mungkin aku belum menulis tentang grup kelasku, nanti kalau ada waktu yes ^.^), ada istilah K3DB -Ku Kenal Kau Dengan Bismillah-, hari itu merupakan giliranku menjawab pertanyaan yang dilemparkan moderator yang sebelumnya dikumpulkan oleh koordinator. Setelah menjawab pertanyaan itu, berkali - kali aku membacanya, menimbulkan sebuah kecamuk kecil yang masih meragukan. Salah satu bunyi pertanyaannya "Kapan siap menikah?", seolah menjadi kerikil kecil yang kalau kau tidak hati - hati akan sakit. Pertanyaan itu membuatku merenung dan memutuskan, bahwa aku harus belajar, harus mempersiapkannya.
Hari ini sepulang dari kajian The Rabbanian di Masjid Al-Azhar, sebuah pertanyaan besar menari di otakku. Membuatku memutuskan bertanya padanya, seseorang yang melalui ridhonya bisa mendapatkan ridho-Nya.
V: Ma, sebaiknya Vivi lanjut S2 dulu atau menikah dulu ma?
M: Menikahlah nak....
Tanpa ragu dua buah kata itu mengalir lancar pada suara yang selalu membuatku tenang itu. Oke baiklah, mungkin untuk S2 bisa ditunda dahulu... Lalu kembali sebuah pertanyaan melintas diotakku....
V: Lalu mama ingin Vivi menikah kapan?
M: Kalau bisa tahun depan...
V: Kalau tahun 2020 ma?
M: Itu umurmu udah mau 26 kan nak, jangan menunda kalau sudah ada yang mau datang...
Lagi... Sama seperti tadi, aku tidak bisa membantah dan seperti kehabisan kata - kata. Lidahku kelu seperti lupa bagaimana bunyi huruf A.
M: Carilah Ia lelaki yang mengerti, lelaki yang tidak mudah memutuskan berpoligami. Carilah lelaki yang setia... Kalau ada yang datang, jangan langsung menolak. Mulai sekarang mulailah belajar menjadi wanita harus seperti apa.
Pembicaraan di telpon masih berlanjut tentang kerinduan anak dan orang tuanya, mengenai baju lebaran dan sebagainya hingga akhirnya telpon ditutup.
Ketika sambungan itu terputus aku menyadari, sudah saatnya memulai yang belum dimulai. Kalau mama sudah berkata demikian maka tiada lagi yang bisa dilakukan selain berikhtiar. Karena menikah adalah sebuah ibadah jangka panjang, yang mana nantinya, hadirnya dia adalah karena Allah menghadirkannya, sebagai makhluk yang masih belum baik ini aku harus banyak belajar. Mari kita sama - sama belajar, merubah diri menjadi manusia baik.
Hai kamu, kamu yang disana, kamu yang ntah siapa... Bantu aku dahulu, dalam doamu agar aku selalu mengingat-Nya, hingga lambat laun aku bisa mengingat siapa dirimu. Aku pun demikian, dalam doaku akan berusaha untuk mengingatkamu agar selalu meingat-Nya. Mari kita saling mengingat hingga Ia berkata sudah waktunya untuk mengingat-Nya bersama.
Jika ada kesempatan, aku akan melanjutkan mencatat intisari dari materi tadi, sebuah kajian dengan tema "Perhiasan Terbaik"- Ustd. Rizal Yuliar,Lc. Untuk diriku sendiri dimasa kini dan dimasa depan, sebagai pengingat tentang ilmu yang telah diperlajari.
Djakarta, 09 Mei 2018...
Sudah berganti hari saat terpublish...
Dibalik sayup suara kipas dan dentingan sang malam..
Dari aku untuk aku yang memikirkan untuk apa aku..
NHN
Tidak ada komentar:
Posting Komentar