Jumat, 27 Desember 2013

Niat

Hari ini pengumuman pengurus himalogin, himpunan mahasiswa yang ada di departemen saya. Entah mengapa, sejak dua hari yang lalu perasaan gelisah itu timbul, perasaan takut akan ketidak berhasilan saya diterima sebagai pengurus himpro tersebut. Dan benar saja, hati itu penerima sinyal alam terbaik yang pernah ada...

Kenapa saya tidak lulus? Suatu pertanyaan yang saya sendiri tidak terlalu yakin jawabannya, tapi yang pasti, satu hal yang entah kenapa meyakini saya bahwa hal ini akan terjadi adalah NIAT...

NIAT, satu kata dengan empat huruf yang kalau diselami lebih jauh memiliki makna paling dalam untuk lancarnya sebuah urusan. Niat awal saya memang masih lurus memilih salah satu divisi . Niat awal yang semula masih tulus dan lurus. Niat awal yang masih baik itu sedikit ternodai oleh sesuatu, sesuatu internal yang membuat niat saya jadi tidak selurus itu, tapi sedikit bercabang, seperti ujung rambut, cabang kecil dan halus yang ternyata simbol kerusakan...

Hadirnya dia membuat saya yang semula ingin memasuki divisi itu karena memang merasa terpanggil justru menjadi bercabang dengan tambahan niat ingin bersamanya. Dua hari yang lalu, ketika perasaan gelisah itu datang, saya baru tersadar bahwa niat ini salah, sangat salah bahkan. Dan ternyata benar, hari ini, begitu saya melihat pengumuman hasilnya, tak ada nama saya di divisi tersebut.

Sedikit down memang begitu mengetahui hasilnya, dan saya benar - benar menyesal karena telah mencabangkan niat saya itu. Saya ingat kata - kata mama, belajarlah dari kesalahan. Sepertinya saya lupa akan kata pusaka itu sehingga harus terjerumus di lubang yang sama.

Tapi, ada sebuah pepatah yang bilang kan, ada banyak jalan menuju roma. Gak cuman lewat divisi itu, masih ada cara lain yang bisa saya tempuh untuk meluruskan niat awal saya.

Seperti mama, saya ingin seperti mama. Dengan niat yang tulus, membantu mengajarkan beberapa anak, ya tidak perlu banyak, tapi berhasil. Mama yang saya lihat dengan penuh kesabaran mengajarkan salah satu anak didiknya yang autis. Bila saya jadi mama, belum tentu saya sesabar itu, hehehehe... Tapi, melihat mama begitu bahagia karena pencapaian yang diraih adik itu sejauh ini, membuat saya ingin seperti mama, puas sekali rasanya berhasil membuat mereka menjadi lebih baik dari yang sebelumnya...

Semoga, dengan belajar dari kesalahan ini, saya tidak terjerumus ke kesalahan yang sama. Semoga Allah masih memberikan jalan lain untuk terus menjaga niat dan semangat saya ini. Semoga suatu saat impian saya memiliki yayasan kecil yang mampu menampung mereka dapat terwujud, dan semoga suatu saat nanti saya bisa merasakan perasaan bahagia seperti mama...







Karena Allah selalu punya rencana yang lebih baik dari yang pernah kita rancang....
~~~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar